Menilai Sehat Tidaknya Sebuah Situs

Mendapatkan posisi bagus untuk situs kita di hasil pencarian Google rasanya kian hari semakin sulit. Kesan tersebut saya rasakan di kuartal pertama tahun 2007 ini. Sebuah situs baru milik seorang kolega, yang nyaris mengalami updating setiap hari dalam kurun waktu 5 bulan ini, belum juga beranjak dari PR0 (Page Rank 0). Meskipun situs tersebut mulai mendapat trafik dari beberapa search engines, trafik dari Google sendiri masih sangat kecil. Tambahan lagi, beberapa situs pribadi yang semula memiliki PR4 kini rangkingnya terjun bebas menjadi PR0. Hal sama juga tampak pada beberapa situs orang lain yang sempat saya amati, setidaknya terjadi penurunan nilai PR.

Ada apa gerangan?

Untuk situs baru yang disebutkan di atas, saya percaya sandbox effect, atau efek kotak pasir turut berperan di samping beberapa faktor yang akan diuraikan di bawah nantinya. Tentang Google Sandbox sendiri, silahkan simak posting berikutnya dalam beberapa hari mendatang.

Sebelum mengajak Anda lebih jauh, saya hendak mengutip pernyataan Matt Cutts, yang dipublikasikan di blognya pada minggu kedua Januari 2007.

As a reminder, supplemental results aren’t something to be afraid of; I’ve got pages from my site in the supplemental results, for example. A complete software rewrite of the infrastructure for supplemental results launched in Summer o’ 2005, and the supplemental results continue to get fresher. Having urls in the supplemental results doesn’t mean that you have some sort of penalty at all; the main determinant of whether a url is in our main web index or in the supplemental index is PageRank. If you used to have pages in our main web index and now they’re in the supplemental results, a good hypothesis is that we might not be counting links to your pages with the same weight as we have in the past. The approach I’d recommend in that case is to use solid white-hat SEO to get high-quality links (e.g. editorially given by other sites on the basis of merit).

Bila membaca posting Matts secara keseluruhan dan lebih seksama, rasanya tak berlebihan andai kita beranggapan bahwa di awal tahun 2007 lalu Google melakukan refinement algoritma di sana-sini guna mempersolid kinerja mesin pencarinya.

Baiklah, mari mulai dari sini. Secara umum, Google memilah halaman hasil indexing ke dalam dua kategori.

  1. Main Search Results atau hasil indeks utama
    Untuk menempatkan web pages yang dianggap penting atau memiliki rangking baik.
  2. Supplemental Results atau hasil indeks suplemen (tambahan)
    Untuk menempatkan web pages yang, melalui kriteria tertentu, dianggap tidak penting. Misalnya: halaman dengan konten ganda, halaman dengan minimal incoming links, dan lain-lain.

Ibarat iklan di radio dan televisi, hasil indeks utama adalah iklan yang diputar pada jam tayang utama atau jam padat pemirsa. Sebaliknya, hasil indeks suplemen merupakan iklan yang diputar pada waktu tayang yang miskin pemirsa. Karena itu, halaman-halaman situs yang masuk indeks suplemen sangat kecil kemungkinannya bisa terlihat di setiap hasil pencarian.

Seperti disinggung Matt Cutts, masuknya halaman sebuah situs ke supplemental results bukanlah indikasi terkena penalti. Namun demikian, perlu segera dicermati bila sumber trafik utama kita murni berasal dari mesin pencari Google. Bila tidak, konsekuensinya tentu mudah ditebak: penurunan rangking terhadap situs itu akan semakin tajam yang diikuti oleh penurunan earning pula. Kalau halaman depan sebuah situs, yang notabene sebagai sumber utama link internal, sudah masuk ke supplemental results, masih relevankah kita berharap situs itu sehat dan senantiasa memperoleh trafik dari Google?

Pastikan Bila Situs Anda Selalu Sehat

Cara praktis untuk memeriksa sehat tidaknya sebuah situs di mata mesin pencari Google adalah dengan mengamati setidaknya tiga indikator berikut:

  1. Apakah halaman-halaman penting masuk ke main atau supplemental search results. Bila masuk ke halaman suplemen, jelas sudah situs tersebut sedang sakit.
  2. Seberapa sering Googlebot melakukan crawling. Dari penelusuran singkat, URL situs yang muncul di tiga halaman pertama pencarian Google dikunjungi Googlebot paling sedikit sekali dalam selang 2 minggu. Bila lebih dari itu, saya beranggapan sebuah situs tidak begitu sehat di mata Googlebot.
  3. Terjadi penurunan PR. Penurunan PR setingkat di bawah nilai PR sebelumnya bisa dijadikan indikasi awal bahwa ada yang tidak beres dengan situs kita. Bila PR-nya turun drastis, tentu saja situs tersebut sedang tidak sehat.

Dua indikator yang lebih dulu disebut di atas dapat dicermati dengan menuliskan perintah site:DomainAnda.com di mesin pencari Google dan mengamati tanggal yang tertera di halaman hasil cache-nya. Frekuensi indexing yang dilakukan Googlebot juga dapat ditelusuri dengan memanfaatkan account gratis dan mendaftarkan situs Anda di Google Webmaster Tools.

Sedangkan untuk mengecek langsung halaman-halaman yang masuk ke supplemental results, anda bisa melakukan pencarian dengan sintaks yang sama ditambah perintah negative search untuk teks sembarang berisikan huruf acak. Misalnya:

site:DomainAnda.com *** -kmpk1342berpohkl

Dengan perintah di atas, Anda akan menemukan sejumlah URL milik situs yang Anda targetkan berterakan teks Supplemental Result. Tak perlu pusing sejauh URL tersebut tidak merujuk pada halaman penting, seperti halaman depan situs. Karena, amat kecil kemungkinannya semua halaman sebuah website dapat masuk ke hasil pencarian utama. Kecuali situs mini yang hanya memiliki beberapa halaman saja.

Mari kita lihat lebih dekat lewat dua kasus berikut.

Ilustrasi 1: Situs Sehat

Sintak: site:amazon.com

Site:Amazon.Com

Perhatikan link bertuliskan Cached pada bagian bawah dari image di atas. Bila Anda melakukan klik pada link tersebut, akan muncul halaman hasil caching terakhir yang tersimpan di mesin Google. Mirip dengan hasil berikut ini:

Cache: Amazon.Com

Di bagian kanan atas, Anda dapat melihat tanggal terakhir halaman tadi dikunjungi Googlebot, yaitu 18 Maret 2007. Tanggal tersebut sama dengan tanggal saat studi kasus ini dilakukan. Melihat nilai PR yang cukup tinggi, yaitu 9/10, situs Amazon.Com merupakan situs yang kerap dikunjungi Googlebot. Bisa jadi, frekuensi kunjungannya malah melebihi sekali dalam sehari.

Ilustrasi 2: Situs Tidak Sehat

Sintak site:techblog.allshouldknow.com

Situs ini adalah situs eksperimen yang pernah saya pakai untuk melihat pengaruh seringnya updating dengan konten yang sebagian besar berasal dari RSS feed. Setelah melewati satu kali PR upate, situs tersebut langsung mendapatkan PR4 dengan trafik yang lumayan dari Google. Saat itu, inbound links hampir tidak ada kecuali dari tag-nya Technorati. So, It worked in the past! Memang manis rasanya bila tanpa melakukan apapun pundi Adsense kita bisa bertambah dari hari ke hari. :-)

Kini, apa yang terjadi?

Site:Techblog

Bila Anda amati gambar di atas, di samping kiri teks link bertuliskan Cached sekarang tertera tulisan Supplemental Result. Ini pertanda bahwa halaman utama situs tadi telah masuk ke bagian suplemen.

Cache: Techblog

Selanjutnya, mari amati tanggal terakhir Googlebot melakukan crawling. Dari pojok kanan atas gambar, terlihat bahwa halaman utama situs tersebut terakhir mengalami indexing pada tanggal 28 February 2007, berselang hampir tiga minggu dari tanggal studi ini dilakukan. Satu lagi, rangking situs ini melorot tajam dari PR4 ke PR0. Bagaimana dengan trafik? Malangnya, sejak February lalu hampir tidak ada lagi visitor yang didatangkan Google :-) Kesimpulannya, situs ini sedang sakit parah!

Berdasarkan beberapa fakta yang telah dipaparkan di atas, berikut ini beberapa dugaan saya.

Memasuki tahun 2007, ada beberapa perubahan terhadap algoritma Google.

  1. Dalam penentuan PR sebuah situs, weighting factor dari quality links kini jauh lebih besar dari sebelumnya. Pertanda link yang berkualiatas semakin penting!
  2. Bobot dari quality links juga lebih berpengaruh dari pada konten yang kerap mengalami updating. Dengan kata lain, sebuah situs tetap saja sukar mendapatkan rangking yang baik bila tak punya cukup banyak incoming links, meskipun situs itu mengalami updating secara teratur.
  3. RSS feed, yang sebelumnya sempat menjadi primadona untuk sumber fresh contents instan, sudah tidak banyak berpengaruh untuk menjaga “kesegaran” sebuah situs di mata Google.
  4. Halaman-halaman yang tetap berada dalam Supplemental Results untuk waktu tertentu, besar kemungkinan akan di-release dari arsip hasil proses indexing.

Kiat Menghindar dari Halaman Suplemen

Kunci untuk menghindar dari halaman suplemen adalah bagaimana membuat halaman-halaman situs kita agar selalu dianggap penting. Jawabannya rada klasik dan tidak jauh dari hal-hal berikut ini:

  1. Memperbanyak link yang berkualitas.
  2. Sering melakukan updating dengan konten unik.
  3. Menghindar dari sesuatu yang bisa mengarah pada konten ganda, seperti copy-paste artikel, title tags dan description meta tags yang identik, dll.
  4. Menghindar dari hal-hal yang menyulitkan proses indexing, seperti URL dengan multiparameter, halaman dengan link URL yang terlalu dalam, dll.

Sebelum mengakhiri artikel ini, saya ingin kembali mengutip bagian akhir komentar Matt Cutts dari kutipan di atas. Bagi saya, bagian itu cukup menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.

….The approach I’d recommend in that case is to use solid white-hat SEO to get high-quality links (e.g. editorially given by other sites on the basis of merit).

Opini Anda?


Intisari Artikel

  • Memasuki tahun 2007, membuat situs memiliki posisi bagus di mata Google semakin sulit dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Hasil indexing google dipilah dalam dua kategori: hasil pencarian utama (penting) dan hasil pencarian suplemen (tidak penting).
  • Bila halaman utama (halaman penting lainnya) dari sebuah situs termasuk ke dalam halaman suplemen, situs tersebut tidak sehat.
  • Inbound link dari situs yang relevan lebih berbobot dari pada regular updating.
  • PR merupakan indikasi seberapa sering Googlebot mengunjungi situs.
  • Selisih waktu yang lama antara proses indexing terkini dan sebelumnya adalah salah satu indikasi situs tidak sehat.
  • Kunci menghindari halaman suplemen adalah membuat konten situs dianggap penting.

12 Comments

  1. web.id on 20.03.2007 at 03:37 (Reply)

    nice post om….
    btw… gimana rasanya mendengarkan lagu “perjalanan” di luar negeri…..

    pengin pulang yah….. he he he

  2. Rionya on 20.03.2007 at 05:26 (Reply)

    RSS feed, yang sebelumnya sempat menjadi primadona untuk sumber fresh contents instan, sudah tidak banyak berpengaruh untuk menjaga “kesegaran” sebuah situs di mata Google.

    ada beberapa website ( subdomain ) yang saya coba buat menggunakan auto blog. Memang enak, kita tidak perlu mengupdate site tersebut. Tapi bener, ga ada visitor dari google :D. Cman makan b/w aja.

  3. Client on 20.03.2007 at 21:45 (Reply)

    Wah kita juga ngalamin nih drop PR dari 4 ke 0, apa ya salahnya? apa kurang incoming link? incoming link yg bagus apa dari dalam atau luar, karena di dalam sendiri kan PR² bagus juga

  4. Bowoekowidodo on 21.03.2007 at 07:42 (Reply)

    Bagus bagus! Eh om untuk ngetahui situs masuk sandbox gmn ya?

  5. Aris on 21.03.2007 at 11:25 (Reply)

    Mantab infonya… sampe pusing bacanya.

  6. […] posting sebelumnya tentang bagaimana menilai sehat tidaknya sebuah situs, saya sebutkan bahwa salah satu indikator tidak sehat adalah bila halaman-halaman penting dari […]

  7. T1ps on 23.03.2007 at 03:05 (Reply)

    Wah aku jadi paham sekarang cara memeriksa kesehatan sebuah situs. Trims Om Keeper.

    Cuma masalah inbound link itu aku belum paham bagaimana meningkatkannya… Google kok susah banget ya untuk mencatat inbound link. Padahal kalo diperiksa di Yahoo, url-ku tercatat sudah banyak inbound link… tapi di Google nothing.

    Bagi-bagi tipsnya dong Om untuk meningkatkan inbound link di mata Google.

  8. moci on 30.03.2007 at 23:45 (Reply)

    masih ga begitu mudeng jg saya yah,,, ;)

  9. Darin on 03.04.2007 at 05:11 (Reply)

    wah muantab tenan ya mas artikelnya,
    saya juga ada halaman yang kena supplemental result, tapi untung bukan halaman utamanya..
    halaman utama disambangi google tanggal 30 maret, he.. he.. pr masih 4.. lumayan..
    terimakasih sekali mas keeper..
    salam buat istri..

  10. steven182 on 21.07.2007 at 04:07 (Reply)

    jadi pusing !!!! habis cek SR wordpress gue, ternyata buanyuak sekali, apa lagi comment nya

    terus cek SR nya bos keeper yg ini http://www.google.com/search?q=site:akoemi.com&hl=en&start=20&sa=N juga buanyak

    masih bingung ??? yg kagak boleh kena SR tu kan, yg halaman utama maksudnya apa YA? apa yg formatnya http://namadomain.com/,
    mohon pencerahannya

  11. Vik Sintus on 05.12.2007 at 06:51 (Reply)

    pusing dan bingung karena belum paham benar.

    web saya jatuh ke PR2 di google tapi SERP-nya masih di tempat yang sama (bagus) menurut kata kunci yang saya lirik.

    Nampaknya perubahan PR tidak terlalu berpengaruh dengan hasil SERP benarkan demikian? mohon penjelasan bagi yang tahu

  12. solusihemat on 08.12.2007 at 07:40 (Reply)

    Wah, jadi penuuh pencerahan…
    saya cek sandbox google untuk websaya hasilnya 2300 page, sedangkan untuk googlenya sendiri cuma 800 dipage google. alamak… pantas “PR” ku enggak pernah dapet nilai bagus…

    Bu Guru Gugel mengira aku tukang copy paste kayaknya, ( apa ini lantaran aku suka pake Type-it ya? makanya iklan ku sama semua ya?)

    Ajeng

Leave a comment